Pemilik restoran Ashhryshoshedap, Ashhry Atan, membuka cerita tentang masa-masa sulit yang pernah dialami usaha kulinernya, mulai dari dugaan gangguan ghaib hingga peristiwa rompakan. Kisah ini muncul di tengah perayaan pembukaan cawangan kedua yang berkonsep Santorini Mediterranean di R&F Santorini, Princess Cove, Johor Bahru.

Kendati usaha terus berkembang dan ada pelaburan sekitar RM1.8 juta untuk cawangan baru, Ashhry tak menutup pengalaman pahit yang sempat mengguncang perniagaannya. Kejadian-kejadian itu, menurutnya, terjadi pada tahap awal pengoperasian restoran pertamanya di Nong Chik Riverside.
Pengalaman dugaan sihir di Nong Chik Riverside
Ashhry mengatakan masalah bermula kira-kira satu hingga dua tahun setelah restoran pertama dibuka. Ia menggambarkan situasi yang membuat suasana tempat kerja menjadi tidak selesa dan mengganggu operasi harian.
“Ya Allah, bila cakap pasal sihir dan rompak ni, rasa sedih sangat. Masa mula-mula buka dekat Nong Chik dulu, selepas setahun dua, saya kena sihir.”
Menurut keterangan Ashhry, tanda-tanda yang muncul lain ditemukan telur berisi gumpalan benang dan koin yang disebar di depan kedai serta di dalam bekas-bekas. Konflik antarstaf pun dikatakan meningkat: perselisihan kecil cepat memuncak menjadi pertengkaran fisik.
“Orang hantar telur yang ada gumpalan benang, orang tabur duit syiling depan kedai dan dalam bekas-bekas. Staf hari-hari bergaduh. Pantang cakap sikit, terus nak bertumbuk. Rasa ada benda tak kena,” katanya.
Ia juga menyebut reaksi tidak biasa dari pelanggan, terutama anak-anak, ketika berada di dalam premis. “Mak saya tolong tengokkan dan memang betul ada orang hantar ‘benda’. Budak-budak masuk kedai pun menangis-nangis, rasa panas.”
Ashhry menyatakan bahwa mereka mengatasi peristiwa itu dengan doa dan tawakal, dan akhirnya gangguan tersebut hilang. Namun masalah lain kemudian muncul.
Rombakan pagi dan respons pihak berkuasa Ashhryshoshedap
Kejadian rompakan terjadi pada waktu awal pagi. Dalam penjelasannya, Ashhry merinci bagaimana pelaku memecah masuk dengan senjata tajam dan mengambil sejumlah wang tunai yang disimpan untuk keperluan buka kedai.
“Kejadian berlaku pukul 3:48 pagi. Pencuri tu bawa parang, dia tetak pintu kaca, dia masuk dan pecahkan laci kaunter.
“Dia ambil duit. Masa tu kita tinggalkan petty cash dalam RM600 untuk tukaran duit pagi, dia ambil semua. Kerugian termasuk pintu yang pecah dalam RM5,000 juga,” katanya.
Ashhry bersyukur polisi Johor bertindak cepat sehingga suspek berhasil ditangkap dalam masa beberapa hari. Ia juga menyebut bahawa pelaku ternyata seorang penagih dadah. “Tapi Alhamdulillah kita ada insurans dan polis Johor pun sangat efisien, dalam dua hingga tiga hari perompak tu dapat ditangkap. Rupanya dia penagih dadah,” tambahnya.
Kehilangan wang tunai dan kerosakan pada pintu kaca menjadi beban, tetapi adanya perlindungan insurans membantu meringankan kerugian secara material.
Melangkah ke cawangan baru dan mempertahankan cita rasa tempatan
Walau dilanda berbagai ujian, Ashhry memilih untuk melihat pengalaman itu sebagai bagian daripada perjalanan membangun perniagaan. “Mungkin semua ujian pahit ini adalah hikmah sebelum saya buka cawangan mega dekat R&F Santorini ini. Ini semua sebahagian daripada perjalanan bisnes saya,” ujarnya.
Pembukaan cawangan baru di Princess Cove menampilkan identitas visual bertema Santorini dengan dominasi warna biru dan putih, namun menu masih mempertahankan cita rasa tempatan seperti sambal belacan, ikan goreng, dan asam pedas. Restoran ini sebelumnya pernah meraih gelaran Johor The Best Restaurant 2025, dengan sajian populer termasuk hidangan berbasis telur masin, asam pedas ikan pari, serta pencuci mulut unik bernama Kura-Kura Mencintaimu.
Acara pembukaan mendapat sokongan rakan-rakan selebriti dan pempengaruh seperti Rozita Che Wan, Zain Saidin, Nabil Mahir, Ayda Jebat, dan Cik Epal. Meski menghadapi tantangan, pemilik dan timnya tampak melanjutkan ekspansi dengan tekad untuk menumbuhkan jenama dan mempertahankan mutu layanan.
Perjalanan Ashhry menunjukkan bagaimana para pengusaha F&B kadang harus melewati rintangan non-bisnis dan kriminal sebelum mencapai stabilitas operasional dan pengakuan publik. Pengalaman ini menjadi pengingat betapa pentingnya persiapan, sokongan pihak berwajib, dan jaminan asuransi dalam mengelola risiko usaha.
