Siri drama Good Boys Go To Heaven memicu perbincangan luas dan, menurut pemeran utamanya Beto Kusyairy, memberi dampak emosional yang nyata di kalangan penonton. Beto mengatakan produksi ini telah mendorong sejumlah orang untuk mulai membagikan pengalaman mereka sebagai korban jenayah seksual, sesuatu yang menurutnya menjadi perkembangan positif. Pernyataan itu disampaikan Beto saat ditemui usai tayangan episod ketujuh Good Boys Go To Heaven di TGV One Utama pada hari Khamis. Ia menyambut baik respons penonton yang tidak sekadar mendebat siapa pelaku, tetapi juga membuka ruang bagi korban untuk bersuara.
Penonton menjadi pemicu korban tampil
Beto menilai drama tersebut membuat penonton seperti “detektif” yang gerak cepat menyelidiki konflik cerita, namun di saat yang sama memunculkan dialog lebih luas mengenai topik sensitif. Ia mengungkapkan pengalamannya menerima pesan pribadi dan membaca komen-komen yang menunjukkan sejumlah individu kini berani berbicara tentang pengalaman pahit mereka. “Sebab drama ini, ramai mahu menjadi detektif untuk merungkai konflik namun di sisi lain pula, ada yang mula bercakap dan membincangkan jalan cerita GBGTH dalam media sosial ibarat memberi satu kepuasan kepada saya. “Akhir-akhir ini juga, saya ada membaca beberapa komen dan menerima mesej peribadi daripada individu yang berani untuk berkongsi pengalaman mereka. “Ada yang mengakui bahawa suatu ketika dahulu mereka pernah melalui situasi yang hampir sama seperti yang dipaparkan dalam siri ini (jenayah seksual) melibatkan individu yang dipercayai, ini perkembangan positif sebab mereka sudah berani bersuara,” kata Beto. Komentar tersebut menegaskan bahwa dampak sebuah karya seni bisa melampaui tujuan hiburan, yakni membuka diskusi publik dan memberi ruang bagi penyintas untuk didengar.
Harapan agar isu tidak lagi tabu
Beto juga menyuarakan harapannya agar pembicaraan mengenai jenayah seksual tidak lagi dianggap aib yang harus ditutup-tutupi dalam keluarga. Ia mengakui bahwa faktor maruah dan nama baik keluarga kerap menjadi hambatan bagi korban untuk melapor atau bercerita, tetapi ia percaya sikap masyarakat kini mulai bergeser. “Saya berharap isu seperti ini tidak lagi dianggap sebagai satu tabu, khususnya dalam kalangan segelintir ibu bapa yang mungkin masih berasa malu untuk membicarakannya. “Mungkin suatu ketika dahulu, soal maruah dan nama baik keluarga menjadi penghalang, namun saya percaya keadaan kini sudah banyak berubah. “Tujuan kami bukanlah untuk mendidik, tetapi untuk menimbulkan kesedaran. Alhamdulillah, sambutan yang diterima sangat menggalakkan dan di luar jangkaan,” jelasnya. Dengan pernyataan tersebut, Beto menegaskan bahwa tujuan tim produksi bukan menggurui, melainkan memicu kesadaran publik tentang isu yang selama ini sensitif.
Tentang Good Boys Go To Heaven
Good Boys Go To Heaven mengikuti kisah Yasser, yang diperankan oleh Beto Kusyairy, seorang ayah yang mengalami masa tergelap setelah anak lelakinya, Ahyan, dilaporkan hilang dan ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tragis. Drama ini mengangkat kasus yang berkaitan dengan jenayah seksual terhadap anak laki-laki, sehingga topiknya cepat menjadi bahan perbincangan di media sosial. Selain Beto, deretan pemeran termasuk Zahirah MacWilson, Amerul Affendi, Firdaus Karim, Malek McCrone, Mila Mohsin, dan Dai Fuad. Good Boys Go To Heaven tayang setiap Jumat pukul 21.00 di Astro Citra, dan dapat distrim lebih awal melalui Astro GO serta aplikasi Sooka mulai pukul 00.00. Penerimaan penonton yang kuat terhadap serial ini menunjukkan ketertarikan masyarakat pada cerita-cerita yang berani mengangkat isu berat. Respons positif sekaligus rasa empati yang muncul dari publik kini diharapkan dapat mendorong pembicaraan lebih terbuka dan dukungan bagi mereka yang pernah menjadi korban.
