Tomyam Berdarah hadir sebagai teater muzikal yang menawarkan lebih dari sekadar hiburan: pementasan ini menyasar perbincangan tentang potensi dan tantangan industri makanan dan minuman (F&B). CTRA Production bersama Peran Opera membawa karya ini untuk memberi pendedahan kepada khalayak mengenai peluang karier di bidang kulinari, selari dengan usaha penguatan pendidikan dan latihan vokasional.

Produksi yang dirancang untuk menggabungkan elemen musikal dan naratif interaktif itu menempatkan restoran sebagai ruang cerita utama—tempat berlangsungnya konflik, warisan, serta isu tempat kerja yang sering tersembunyi. Tomyam Berdarah dijadwalkan tampil pada 28 hingga 30 Agustus 2026 di Panggung Seni, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Selangor.
Mengangkat Karier Kulinari sebagai Pilihan
Penerbit Siti Rohayah Attan menegaskan bahwa tujuan pementasan ini bukan hanya menghibur, melainkan juga mendidik publik tentang luasnya peluang di sektor kuliner. Ia menekankan bahwa keterampilan memasak kini melebar melampaui dapur rumah dan memasuki ranah kreativitas, seni, teknik, dan inovasi yang punya potensi ekonomi signifikan.
Dalam menjelaskan visi tersebut, Siti Rohayah menyampaikan sejumlah poin yang menggambarkan macam-macam jalur karier dari platform kulinari. Ia menyoroti kesempatan menjadi chef di hotel atau restoran ternama, chef selebriti, pengusaha produk makanan/minuman, pemilik restoran, hingga peran sebagai pempengaruh makanan di media sosial. Pernyataan penerbit mempertegas pendekatan pementasan yang ingin memadukan hiburan dan pendidikan untuk menarik minat generasi muda pada kejuruan ini.
Selain itu, Siti Rohayah menegaskan pentingnya melihat industri F&B sebagai sektor yang dapat membuka peluang kerja luas bagi anak muda dan mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif melalui berbagai peran profesional di kuliner.
Pendekatan Artistik dan Tema Utama
Pengarah Aloeng Silalahi menggambarkan Tomyam Berdarah sebagai sebuah naskah baru dalam garis pementasan jenayah interaktif yang memadukan satira, struktur muzikal, dan pendekatan site-responsive. Gaya pementasan ini dirancang untuk merespon ruang panggung dan membentuk pengalaman yang dekat dengan penonton.
Menurut Aloeng, karya ini menyelami tema kuasa, warisan, serta isu toksik di tempat kerja, sambil menyingkap sisi kemanusiaan yang tersembunyi di balik operasi sebuah restoran. Ia merangkum esensi pementasan dengan pernyataan yang menggambarkan lapisan cerita dan emosi yang diangkat:
“Ringkasnya, teater ini bukan sekadar cerita tentang kematian, tetapi mengenai hidup yang ‘direbus’ bersama harapan, dendam dan identiti dan semuanya disajikan di dalam satu periuk tomyam,” katanya.
Format muzikal dan struktur naratif satir dimaksudkan untuk memberi ruang pada penonton merenungkan kondisi sosial dan budaya kerja di sektor F&B, sekaligus menikmati hiburan yang ditawarkan lewat lagu, adegan interaktif, dan dinamika karakter.
Pemain, Jadwal, dan Harapan Produksi
Pementasan menampilkan barisan pemeran yang mencakup Karl Shafek dan Juhara Ayob, di talenta lain yang dilibatkan untuk menghidupkan karakter dalam cerita. Kombinasi aktor-aktor ini diharapkan mampu menyampaikan nuansa serius dan jenaka yang berselang seli di dalam naskah.
Tomyam Berdarah dijadwalkan berlangsung selama tiga malam, 28–30 Agustus 2026, di Panggung Seni UKM. Penonton yang hadir dapat mengharapkan sebuah produksi yang memadukan hiburan musikal dengan penggalian tema-tema sosial terkait industri kulinari dan kondisi kerja di balik layar restoran.
Dengan mengambil pendekatan mendidik sambil menghibur, produksi ini mencoba membuka wacana tentang bagaimana bidang kulinari berpotensi menjadi landasan karier yang dihargai dan beragam. Penonton diundang tidak hanya untuk menyaksikan cerita di atas panggung, tetapi juga merenungkan posisi F&B dalam lanskap pekerjaan dan budaya konrer.
