Team Liquid Philippines (TLPH) keluar lebih cepat dari yang diharapkan pada pertandingan Mid-Season Cup di rangkaian Esports World Cup 2026. Tim yang sempat mendominasi MPL Philippines itu gagal melaju ke fase playoff setelah tersingkir tanpa kemenangan di ajang internasional tersebut.

Pemain dan staf mengakui faktor teknis sebagai penyebab utama kegagalan tim. Mereka menyebut waktu persiapan yang pendek terkait perilisan patch baru menjadi hambatan besar dalam menyesuaikan strategi dan komposisi hero di turnamen.
Adaptasi patch sebagai pemicu utama
Menurut pemain inti Karl “Karltzy” Nepomuceno, persaingan meningkat tajam sejak pembaruan. “The competition is really high this year and I see a lot of teams improving so much during the update,” ujarnya, lalu menambahkan soal tanggung jawab tim atas proses adaptasi: “I feel like it is our fault that we didn’t adapt very fast and that has always been the problem for us even before.”
Ucapan Karltzy mencerminkan kegundahan bahwa meski memiliki kualitas pemain, kelincahan dalam membaca perubahan meta jadi penentu hasil di level internasional. Tim merasa tidak sempat melakukan uji coba dan eksperimen draft secara memadai karena patch baru diumumkan relatif singkat sebelum laga dimulai.
Performa di fase grup dan masalah drafting
TLPH menelan dua kekalahan yang membuat perjalanan mereka kandas. Di upper bracket mereka tumbang melawan Aurora dari Turki, lalu di lower bracket kalah 0-2 dari Entity 7 asal Peru di Grup B. Pada kedua pertandingan itu terlihat kekurangan konsistensi dalam menghadapi draft lawan yang menekankan permainan awal (early game) serta tekanan hutan yang agresif.
Gold laner Dave “Teddy” Viana menggambarkan perbedaan persiapan kompetisi domestik dan internasional: “Ang pinagkaiba lang non mas preparado kami sa MPL PH kaya mas nadominate namin compared dito sa EWC.” Ia juga menyinggung bahwa jangka waktu persiapan yang singkat merupakan faktor signifikan: “Gaya nga ng sabi ni coach Aeon one week lang before the tournament yung patch kaya di kami masyado nakapagprepare, parang nag-mamatter lang yung preparation kaya di namin nadominate yung EWC.”
Respon pemain dan langkah ke depan
Meskipun hasil mengecewakan, para pemain mencoba menatap ke depan. Jaypee “Jaypee” Dela Cruz, roamer veteran tim, meminta rekan-rekannya untuk menerima kekalahan dan belajar dari pengalaman tersebut. “Medyo mahirap talaga kasi kakagaling lang namin sa talo pero kailangan lang din namin siguro ma-accept agad yung mga nangyari at saka maraming matutunan sa pagkatalo namin at makapag bounce back agad kami,” ujarnya.
Pernyataan Jaypee menunjukkan sikap tim yang ingin menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Mengingat dominasi TLPH di kompetisi lokal, gagasan untuk memperbaiki proses persiapan teknis dan scrim serta menyesuaikan pendekatan draft menjadi fokus yang diharapkan bisa memperbaiki hasil di turnamen internasional berikutnya.
Catatan kompetitif
Hasil TLPH di Esports World Cup mempertegas bahwa kecepatan adaptasi terhadap patch baru menjadi aspek krusial dalam kompetisi tingkat tinggi. Beberapa tim lain berhasil memanfaatkan perubahan meta lebih cepat, sehingga mampu menerapkan strategi yang menekan sejak awal pertandingan.
Bagi TLPH, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan domestik tidak otomatis menjamin dominasi di level global tanpa mekanisme adaptasi yang lebih sigap. Tim dan pelatih diharapkan mengevaluasi rutinitas persiapan menjelang turnamen internasional agar kejadian serupa tidak terulang.
Meski tersingkir dan gagal mempertahankan gelar MSC, pernyataan para pemain menegaskan tekad untuk mempelajari kelemahan dan segera bangkit demi penampilan yang lebih baik ke depannya.
