Watak lakonan kerap membentuk persepsi penonton terhadap pelakon, namun Ammar Alfian menegaskan bahwa apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan sifat sebenar seseorang. Dia merespons komen seorang netizen yang menggambarkannya sebagai peramah dan tidak ‘poyo’, lalu mengingatkan publik agar tidak terlalu terbawa emosi oleh watak yang dibawakan aktor di televisi.

Ammar mengungkapkan kekecewaannya terhadap kecenderungan penonton yang menganggap watak jahat sama dengan watak dalam kehidupan nyata. Ia menekankan pentingnya memisahkan lakonan dari keperibadian di luar set, serta menunjuk bahwa ada juga pelakon yang selalu bermain watak baik tetapi berperilaku berbeda di dunia nyata.
Ammar tegaskan batas lakonan dan kenyataan
Dalam perbincangan singkat di kolom komen, Ammar menyoroti bagaimana penonton mudah terbawa peranan yang dilihat di layar. Ia menyatakan, “Korang terlalu taksub dengan watak dan lakonan seseorang pelakon itu sampaikan pelakon itu pegang watak jahat pun, korang ingatkan dalam realiti pun dia memang jahat,” menegaskan agar penonton berpikir lebih kritis sebelum menilai pelakon berdasarkan satu peranan.
Lebih jauh, Ammar menyampaikan sindiran terhadap fenomena selebriti yang menampilkan imej baik kepada publik namun mungkin memiliki keperibadian yang kurang menyenangkan di kehidupan sebenar. Ia menegaskan, “Ramai sebenarnya hero kesukaan korang yang berlakon jadi baik sampai tengok pun cair, tetapi realitinya perangai teruk. Yang itu korang tak nak bising pula. Kebanyakan orang kena tipu dengan selebriti yang fake ini. Saya sentiasa jadi individu yang jujur,” ujar Ammar.
Rekan artis berbagi pengalaman serupa
Pandangan Ammar mendapat sambutan dari beberapa rakan seangkatan yang kerap memerankan watak antagonis. Mereka berbagi pengalaman tentang bagaimana peranan yang dimainkan memengaruhi pandangan publik terhadap pribadi mereka.
- Adam Corrie bercanda tentang citra dirinya, menyatakan, “Saya pelakon jahat dan muka pecah rumah.”
- Zila Bakarin mengungkap bagaimana perannya memengaruhi interaksi di luar set: “Saya ini, mana-mana pergi mesti orang anggap saya ibu tiri, perempuan jahat dan bini neraka.”
- Adam Shah juga menyampaikan dampak stereotip terhadap dirinya: “Aku berlakon jahat, muka pun tak berapa nak hensem. Lagilah teruk kena kecam.”
Komentar-komentar tersebut memperlihatkan fenomena umum di industri hiburan: penonton seringkali mengaitkan watak di layar dengan sifat peribadi pelakon, khususnya ketika watak antagonis menonjol dan mudah diingat.
Pesan untuk penonton dan pelaku seni
Ammar dan rakan-rakannya secara tidak langsung mengajak penonton untuk lebih berhati-hati dalam menilai seseorang berdasarkan peranan semata. Pesan ini relevan bagi penonton yang semakin sering berinteraksi dengan cuplikan atau adegan melalui platform digital, di mana kesan pertama bisa cepat terbentuk dan sulit diubah.
Bagi pelakon, pengalaman yang dibagikan Ammar dan kolega menunjukkan tantangan profesional: harus mampu menanggapi stereotip dan salah paham yang mungkin timbul akibat peranan yang dimainkan. Sementara itu, bagi pemirsa, pesan yang disampaikan mendorong sikap lebih arif dalam membedakan seni pertunjukan dan kehidupan nyata.
Diskusi yang dipicu oleh komentar tersebut menjadi pengingat bahwa lakonan adalah seni yang memerlukan interpretasi, dan menilai pelakon semata dari watak yang dibawakan dapat menutup pemahaman terhadap kompleksitas profesi mereka.
Perbincangan ini berakhir dengan catatan bahwa jurang persepsi publik dan realiti pelaku seni kerap memicu salah paham, sehingga kebijaksanaan menilai menjadi hal yang penting dalam konsumsi hiburan masa kini.
