Defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat daya saing ekspor nasional. Pernyataan itu disampaikan oleh Christiany Eugenia Paruntu, anggota Komisi VI DPR RI, yang menilai kondisi ini membuka ruang evaluasi kebijakan perdagangan dan industri.

Christiany menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan impor, terutama pada sektor minyak dan gas (migas). Dia menilai langkah strategis perlu segera diambil agar tren surplus neraca perdagangan dapat kembali terjaga dalam jangka menengah dan panjang, sekaligus meningkatkan posisi produk dalam negeri di pasar global.
Evaluasi kebijakan perdagangan dan kemampuan ekspor
Dalam pandangannya, defisit yang terjadi memberi sinyal perlunya peninjauan mendalam terhadap kebijakan perdagangan dan dukungan untuk sektor-sektor padat ekspor. Christiany menyebut perlunya upaya sistematis untuk memperkuat daya saing produk Indonesia agar mampu menembus pasar luar negeri dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dia juga mengingatkan pentingnya koordinasi antarpemangku kepentingan untuk mengidentifikasi hambatan ekspor, baik dari sisi produksi, biaya logistik, maupun penerapan standar teknis. Menurutnya, langkah-langkah itu menjadi bagian dari proses agar surplus perdagangan dapat dipulihkan secara berkelanjutan.
Kurangi ketergantungan impor migas
Christiany secara khusus menyoroti ketergantungan terhadap impor di sektor migas sebagai salah satu faktor yang perlu dikurangi. Dia menilai upaya untuk menekan impor migas akan berkontribusi signifikan pada perbaikan neraca perdagangan bila disertai peningkatan pasokan energi dalam negeri dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi fokus pada kemandirian di sektor-sektor strategis sebagai bagian dari upaya jangka menengah dan panjang. Christiany menekankan bahwa langkah-langkah untuk mengurangi impor harus dirancang untuk tidak hanya menutup kebutuhan domestik tetapi juga mendukung kapasitas ekspor ke depan.
Langkah strategis untuk menjaga surplus jangka panjang
Anggota Komisi VI DPR RI itu menilai bahwa peningkatan ekspor bukan sekadar soal volume, melainkan juga soal peningkatan kualitas dan nilai tambah produk. Christiany meminta agar strategi yang dirumuskan bersifat holistik dan berorientasi jangka menengah hingga panjang, sehingga tidak hanya menanggulangi defisit sementara tetapi membangun ketahanan perdagangan nasional.
Dia mengingatkan perlunya terobosan yang menyentuh berbagai tahapan rantai nilai, mulai dari pengembangan bahan baku, peningkatan kapasitas industri pengolahan, hingga akses pasar internasional. Menurutnya, upaya terpadu akan memperkuat posisi ekspor dan membantu menjaga stabilitas neraca perdagangan.
Seruan untuk langkah cepat dan berkelanjutan
Christiany meminta agar respons terhadap defisit tidak hanya bersifat reaktif, melainkan diikuti dengan rencana strategis yang jelas dan implementasi yang konsisten. Dia menyebut bahwa perbaikan neraca perdagangan memerlukan komitmen berkelanjutan dari pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain agar tujuan surplus jangka menengah dan panjang tercapai.
Dengan melihat kondisi saat ini sebagai momen evaluasi, Christiany berharap upaya memperkuat ekspor dan mengurangi ketergantungan impor, khususnya di sektor migas, dapat segera dimulai sehingga dampak negatif defisit dapat diminimalkan dan prospek perdagangan nasional membaik.
